Jangan Tunda Layanan Terapi Kanker Akibat COVID-19

Pasien kanker yang dikemoterapi
Pasien kanker yang dikemoterapi
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Sebuah koalisi yang terdiri dari ahli onkologi terkemuka di Asia dan komunitas penyintas kanker didukung oleh AstraZeneca – perusahaan farmasi asal Inggris – mengajak para pasien untuk tidak menunda melakukan akses layanan kanker sebagai bagian dari kampanye New Normal, Same Cancer.

Meskipun dampak jangka panjang pada pasien belum sepenuhnya diketahui, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dengan penundaan satu bulan pengobatan dapat menyebabkan peningkatan risiko kematian sebesar 6%. 

Kampanye tersebut mendorong orang-orang yang didiagnosis dengan kanker untuk melanjutkan pengobatan yang mungkin telah dihentikan sementara, dan orang-orang dengan kemungkinan memiliki tanda dan gejala kanker atau yang telah melewatkan pemeriksaan rutin, untuk berkonsultasi dengan dokter.

Kampanye itu disuarakan oleh koalisi pakar kesehatan dari India, Indonesia, Filipina dan Singapura dan Thailand. Mereka membuat pernyataan bahwa diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu merupakan faktor penting untuk menentukan keberhasilan pengobatan kanker.

Pandemi COVID-19 telah menimbulkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada sistem perawatan kesehatan di seluruh Asia, termasuk layanan kanker.

“Saat negara-negara memasuki ‘new normal’, kami sangat mendorong pasien kanker untuk tidak menunda mengakses layanan sesuai dengan waktu yang dijadwalkan demi mendapatkan akses pengobatan yang terbaik,” bunyi pernyataan koalisi tersebut.

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan terganggunya banyak layanan bagi penderita kanker di Asia selama setahun terakhir, serta pemeriksaan kanker di beberapa negara.

Bahkan meskipun layanan tetap tersedia, beberapa pasien menunda melakukan janji temu, pengobatan serta janji tindak lanjut karena takut tertular virus.

Di Filipina, misalnya, sebuah survei menemukan bahwa ketakutan dan kecemasan pasien kanker yang ditimbulkan oleh kekhawatiran tertular virus memengaruhi perilaku pencarian solusi kesehatan bagi mereka yang masih perlu didiagnosis.

“Di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta terjadi penurunan angka kunjungan pasien, sampai dengan 37% seperti yang disampaikan oleh Dr. Yusuf, pakar onkologi ginekologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais

Terdapat penurunan 9% dalam kunjungan untuk konsultasi pertama dan 30% penurunan konsultasi tindak lanjut di National University Cancer Institute, Singapura (NCIS) antara Februari dan Maret 2020, meskipun angka-angka ini telah kembali pulih. Selain itu, dalam survei terhadap 480 para ahli bedah di seluruh India, diperkirakan 192.000 pasien kemungkinan mengalami keterlambatan dalam diagnosis kanker secara tepat waktu.[iv] Perjanjian untuk skrining Pap smear tahunan gratis turun 75%. Untuk detail spesifik negara, lihat Lampiran B.

“Dapat dipahami bahwa masyarakat lebih berhati-hati dalam mengunjungi rumah sakit dan klinik saat ini, tetapi penundaan diagnosis atau pengobatan dapat menyebabkan kanker menjadi lebih sulit untuk diobati dan menyebabkan hasil yang lebih buruk bagi pasien,” ucap Fong Pei-Chieh, Medical Director of AstraZeneca, Asia Area. “Banyak sistem kesehatan di negara – negara Asia menerapkan model perawatan inovatif yang bertujuan melindungi pasien dari COVID-19 sambil tetap mempertahankan layanan yang efektif bagi pasien. Dengan semakin banyaknya negara yang memasuki ‘new normal’, kampanye New Normal, Same Cancer sangat mendorong pasien kanker agar tidak menunda akses terhadap layanan yang tepat demi mendapatkan akses pengobatan yang terbaik.”

Guna membantu melindungi masyarakat yang mengunjungi klinik kanker, banyak fasilitas perawatan kesehatan telah menyesuaikan praktik mereka dan menerapkan solusi baru untuk meminimalisasi risiko penularan COVID-19. Bagi banyak negara, telehealth telah menjadi bagian penting dari layanan pasien, yang memungkinkan para tenaga kesehatan seperti ahli onkologi untuk memeriksa pasien mereka dan melakukan skrining jarak jauh tanpa pasien perlu meninggalkan rumah.

Perjalanan pasien juga telah dimodifikasi. Misalnya, Tata Memorial Centre di India menghindari operasi kompleks yang membutuhkan banyak transfusi darah dan tinggal lama di unit perawatan intensif. [v] National Cancer Centre Singapore (NCCS) telah menyesuaikan rencana pengobatan bagi beberapa pasien dan mengatur pencitraan diagnostik (radiologi) serta biopsi pada hari yang sama untuk rujukan baru yang dinilai memiliki kemungkinan tinggi terkena kanker, sehingga dapat membatasi jumlah janji ke klinik bagi pasien.  

“Layanan perawatan kesehatan di seluruh Asia menanggapi gangguan COVID-19 dengan menghadirkan berbagai model perawatan yang inovatif dan berdampak untuk mempertahankan layanan yang efektif. Banyak yang mengambil langkah untuk membantu mengatasi risiko COVID-19 di klinik kanker dan mendorong orang untuk datang berkonsultasi langsung bila diperlukan. Meyakinkan masyarakat dan pasien kanker serta penyintas akan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan diri mereka guna kembali dan mendapatkan pemeriksaan serta perawatan yang sesuai,” kata Dr Chng Wee Joo, direktur Institut Kanker Universitas Nasional, Singapura.

“Melalui kampanye New Normal, Same Cancer, kami berharap dapat mendorong pasien untuk tetap mendapatkan pertolongan yang mereka butuhkan dan berhenti menunggu hingga risiko COVID-19 yang dirasakan telah berlalu,” kata Fong, dari AstraZeneca.

“Dengan berkumpul bersama para spesialis kanker dari kelompok perawatan kesehatan, pembuat kebijakan dan komunitas pasien untuk membagikan pesan ini, kami berharap dapat mendorong pasien untuk memprioritaskan pengobatan kanker mereka serta membuat perjanjian untuk tindakan lanjutan, hingga pada akhirnya meningkatkan hasil perawatan kesehatan pasien kanker di seluruh Asia.”