Vaksin COVID-19 Moderna Diklaim Lebih Efektif, Mana Yang Benar?

kantor Moderna
kantor Moderna
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Vaksin COVID-19 buatan Pfizer-BioNTech diklaim bisa cegah COVI-19 sebanyak 90 persen. Beberapa hari kemudian Rusia mengklaim vaksin yang sama diberi nama Sputnik V memiliki efektifitas 92%. Belum genap sebulan, Moderna mengklaim 94,5 persen dapat mencegah infeksi virus Corona.

Seperti dilansir Reuters (17/11/2020), klaim Moderna itu didasarkan dari data sementara dari uji coba tahap akhir.

seperti vaksin buatan Pfizer, vaksinmade-in Moderna ini pun menggunakan teknologi baru yang dikenal sebagai messenger RNA (mRNA).

Namun bedanya vaksin suntikan Moderna dapat disimpan pada suhu lemari es normal, yang seharusnya membuatnya lebih mudah untuk didistribusikan.

Ini menjadi faktor penting karena kasus COVID-19 melonjak, mencapai rekor baru di Amerika Serikat dan mendorong beberapa negara Eropa kembali ke lockdown, yang tentunya membutuhkan distribusi yang cepat.

“Kami akan memiliki vaksin yang dapat menghentikan COVID-19,” kata Presiden Moderna Stephen Hoge dalam wawancara telepon.

Analisis sementara Moderna didasarkan pada 95 infeksi di antara peserta uji coba yang menerima vaksin atau plasebo. Hanya lima infeksi terjadi pada relawan yang menerima vaksin mRNA-1273, yang diberikan dalam dua suntikan dengan selang waktu 28 hari.

“Vaksin ini benar-benar cahaya di ujung terowongan,” kata Dr. Anthony Fauci, pakar penyakit menular Amerika Serikat. Namun begitu, ia mendesak orang Amerika untuk tidak lengah dan terus mencuci tangan dan waspada tentang jarak sosial.

Sebab vaksin itu tidak akan datang dalamtempo yang cepat hingga libur akhir tahun ini. Tepatnya ketika orang-orang berkumpul merayakan Hari Natal dan Tahun Baru.

Moderna berharap memiliki cukup data keamanan yang diperlukan untuk otorisasi AS dalam minggu depan atau lebih dan berharap untuk mengajukan otorisasi penggunaan darurat (EUA) dalam beberapa minggu mendatang.

Saham Moderna

Setelah pengumuman itu, saham Moderna meningkat lebih dari empat kali lipat tahun ini, meningkat 8%, di bursa saham Eropa dan AS. Begitu pula indeks saham gabungan. Benchmark S&P 500 naik 1%, sedangkan pan-European STOXX 600 naik 1,3%.

Sebaliknya, saham Pfizer dan mitranya BioNTech, yang vaksinnya harus diangkut pada suhu yang jauh lebih dingin, masing-masing turun 4,3% dan 16,4%. Sementara itu AstraZeneca asal Inggris, yang belum merilis hasil apa pun dari uji coba vaksin tahap akhir, turun 1%.