Vaksin COVID-19 Buatan Pfizer-BioNTech Sukses, Saham Farmasi Cuan

kantor pusat Pfizer
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Pfizer bernapas lega. Pasalnya, ilmuwan yang melakukan uji klinis vaksin COVID-19 mengatakan vaksinnya yang dibikin bersama BioNTech melampau harapannya dalam memberikan perlindungan terhadap penularan virus Corona, penyebab COVID-19, dan mencegahnya menjadi parah. Selain itu, tidak memberikan efek samping berbahaya.

Pembuat obat yang berasal dari Amerika Serikat (AS) itu bilang, vaksin mereka lebih dari 90 persen efektif untuk mencegah COVID-19. Tingkat kemanjuran berarti bahwa sebagian besar infeksi terjadi di antara orang-orang yang menerima plasebo daripada vaksin.

Studi yang melibatkan 44.000 sukarelawan itu awalnya dirancang untuk analisis sementara pertama tentang apakah vaksin itu berhasil setelah 32 peserta mengembangkan COVID-19 karena hanya mendapat plasebo alias vaksin bohongan.

William Gruber, wakil presiden senior penelitian dan pengembangan klinis vaksin Pfizer, mengatakan bahwa perusahaan mengubah rencana studi setelah berdiskusi dengan regulator AS dan pada akhirnya mendapatkan data pada 94 orang.

“Ini memberi Anda lebih banyak kekuatan dan kepercayaan diri,” kata John Moore, ahli mikrobiologi dan imunologi pada Weill Cornell Medical College di New York, AS. seperti dlansir Reuters (9/11/2020)“Jika Anda melipatgandakan angkanya dan Anda mendapatkan perbedaan besar di antara keduanya, kemungkinan besar itu akan nyata.”

Namun demikian masih banyak pertanyaan soal manfaat vaksin tersebut. Yaitu antara lain, apakah vaksin dapat mencegah penyakit parah atau komplikasi, berapa lama akan melindungi dari infeksi dan seberapa baik vaksin itu akan bekerja pada orang tua.

Mereka mencatat bahwa data keamanan yang diperlukan tidak akan tersedia hingga akhir bulan ini. Selain itu, Pfizer dan BioNTech belum mengirimkan data mereka untuk ditinjau oleh ilmuwan lain, sebuah langkah kunci dalam menentukan kualitas hasil.

“Ini benar-benar menggembirakan tetapi ini merupakan hasil sangat dini,” kata Gregory Poland, ahli virus dan peneliti vaksin dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, AS.

Studi lengkap dirancang untuk menunjukkan vaksin itu efektif setelah 164 orang jatuh sakit. Pfizer mengatakan hal itu mungkin terjadi pada minggu pertama atau kedua bulan Desember, ketika panel penasihat luar untuk Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).

Lembaga itu masih meninjau hasil studi dan belum memutuskan apakah akan merekomendasikan untuk mengesahkan penggunaannya.

Gruber mengatakan dia belum merinci berapa banyak dari 94 infeksi pertama yang terjadi di antara peserta berkulit hitam atau Latin, dua komunitas yang paling terpukul oleh penyakit tersebut. D

Ia juga tahu persis berapa banyak orang lanjut usia dalam persidangan yang jatuh sakit. Orang tua dengan sistem kekebalan yang lemah sangat rentan terhadap COVID-19 yang parah

Sejauh ini, tidak ada dari 94 orang dalam analisis awal yang mengembangkan COVID-19 parah. FDA awalnya meminta agar data sementara mencakup setidaknya lima kasus parah.

“Jika vaksin ingin mengurangi penyakit parah dan kematian, dan dengan demikian memungkinkan populasi secara luas untuk kembali ke kehidupan normal sehari-hari, itu harus efektif pada anggota masyarakat kita yang lebih tua dan lanjut usia,” tutur Eleanor Riley, ahli imunologi dan penyakit menular di Universitas Edinburgh, Skotlandia.

Gruber berharap ada beberapa kasus penyakit parah sebelum uji coba berakhir.

“Intinya adalah kami harus menggunakan data yang kami miliki dan efektivitas tinggi untuk memberi kami keyakinan bahwa kami akan mencegah infeksi parah,” katanya.

Dampak pada Saham Farmasi

Kesuksesan vaksin Pfizer-BioNTech karuan membuat saham Pfizer pun menggeliat. Saham Pfizer (PFE) melonjak 7,69% di level US$ 39,20/saham atau Rp 545.000/saham kurs Rp 14.000/US$), dengan kenaikan year to date hanya 0,05%.

Bagaimana dengan emiten farmasi di Indonesia? Menurut cnbc Indonesia (10/11/2020), saham Pyridam Farma Tbk (PYFA) naik jadi Rp 935 per lembar atau naik 6,8 persen. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga terkena imbasnya, perusahaan farmasi terbesar di Indonesia ini mengalami lonjakan harga saham sebesar 1,69 persen.

PT Phapros Tbk (PEHA), BUMN Farmasi di bawah holding farmasi PT Bio Farma, juga melejit 6,25 persen juga melejit. Begitu pula nasib saham BUMN Farmasi lain seperti PT Indofarma Tbk (PEHA) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF).

Se