Kemenperin Terus Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Impor

Kimia Farma lakukan ekspor
Kimia Farma lakukan ekspor
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan bahan baku obat impor dari tahun ke tahun. Bahkan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksi ketergantungan importasi bahan baku obat industri farmasi nasional akan berkurang signifikan pada 2024.

Itu didasarkan pada data Kemenperin. Pada 2020, impor bahan baku berkurang 2,72% menjadi 92% dari 95%. Itu setelah mulai produksinya bahan baku obat yang dikerjakan bareng antara PT Kimia Farma dan Sungwon Pharmacopia dari Korea Selatan. Perusahaan patungan itu sudah berhasil membuat beberapa bahan baku obat. Antara lain: simvastatin (4,2 metrik ton), atorvastatin (0,7 metrik ton), clopidogrel (7,6 metrik ton), dan entecavir (371 gram).

Simvastatin dan atorvastatin merupakan obat penggelontor kolesterol. Lalu clopidogrel adalah obat stroke dan serangan jantung. Sedangkan entecavir sebagai obat anti virus untuk mengatasi penyakit hepatitis B kronik.

“Kami mendorong penurunan nilai impor. Karena, untuk bahan baku obat, volume  [yang diimpor] kecil, tapi nilainya tinggi,” kata Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin Muhammad Taufik, seperti dilansir dari Bisnis (25/10/2020).

Pada 2024, menurut Taufik, nilai impor bahan baku obat berkurang 20,52%. Ini berarti ketergantungan impor menjadi sekitar 74%.

Keyakinan itu diutarakan karena pada tahun 2023, perusahaan gabungan tersebut di atas akan memproduksi sejumlah bahan baku obat baru, seperti PVP iodine (84,83 metrik ton) dan rifampicin (67 metrik ton). Rifampicin adalah obat tuberkulosis yang biasanya dikombinasikan dengan antibiotik lain.