Ini Khasiat Enoxaparin Buat Pasien COVID-19

<--ads1-->

WARTABUGAR – Eenoxaparin dan heparin sudah digunakan oleh beberapa dokter sebaga obat antikoagulasi buat pasien rawat inap yang menderita penyakit COVID-19.

Namun di antara keduanya, pasien yang diobati dengan enoxaparin ditemukan memiliki tingkat trombosis, cedera ginjal, dan kematian yang lebih rendah daripada pasien yang diobati dengan heparin.

Itu menurut sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di medRxiv.

Itu setelah para periset menganalisis catatan kesehatan elektronik lengkap dari 671 pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 yang diberikan enoxaparin atau heparin.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menerima heparin memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi, kejadian trombotik, cedera ginjal akut, dan pneumonia bakteri dibandingkan dengan yang diberikan enoxaparin saja.

Selain itu, penulis mencatat bahwa perbedaan dalam tingkat antara kelompok pasien enoxaparin dan heparin tetap signifikan secara statistik bahkan setelah mengendalikan faktor perancu potensial, seperti demografi, komorbiditas, diagnosis masuk, status ICU awal, dan tingkat awal dukungan oksigen.

Dari 158 pasien dalam kelompok yang menerima enoxaparin, 5,6% akhirnya meninggal, dibandingkan dengan 15% pada kelompok heparin.

Namun, pengobatan dengan enoxaparin tidak secara signifikan menurunkan lama waktu pasien di rumah sakit, karena rata-rata lama rawat di rumah sakit untuk kelompok heparin adalah 6,9 hari, sedangkan rata-rata adalah 5,8 hari untuk kelompok enoxaparin.

Selain itu, rata-rata lama tinggal di ICU untuk pasien yang menerima heparin adalah 1,9 hari, dibandingkan dengan 1,1 hari untuk pasien yang menerima enoxaparin.

Penulis juga menilai perbedaan tingkat di antara jenis komplikasi tertentu. Secara khusus, kejadian cedera ginjal akut terjadi pada tingkat yang lebih tinggi pada kelompok heparin daripada kelompok enoxaparin (masing-masing 7,7% vs 1,4%) seperti halnya pneumonia bakteri (5,6% vs 0%, masing-masing). Namun, penulis menjelaskan bahwa karena ukuran kohort yang kecil, perbedaan ini tidak signifikan secara statistik dalam pertimbangan potensi beberapa hipotesis.

Menurut penulis, hasil ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk studi dan uji coba lebih lanjut yang dapat mendukung pengembangan standar praktik dengan efektivitas yang lebih besar dalam pemberian antikoagulan pada pasien COVID-19.