Gilead Mempertanyakan Ucapan WHO Soal Remdesivir

Gilead
Gilead
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengunggah hasil studi yang menyimpulkan bahwa obat antivirus remdesivir tidak membantu pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. Itu berdasarkan temuan studi Solidarity Trial.

Selain remdesivir, Solidarity Trial juga mengevaluasi hydroxychloroquine, kombinasi obat anti-HIV lopinavir / ritonavir dan interferon, dan menyimpulkan bahwa obat-obat tersebut tidak banyak membantu pasien bertahan hidup atau meninggalkan rumah sakit lebih cepat.

Uji coba WHO dilakukan pada 11.266 pasien dewasa di lebih dari 30 negara. Buktinya meyakinkan, kata WHO.

WHO mengatakan Solidarity trial telah menyimpulkan bahwa remdesivir tampaknya memiliki sedikit atau tidak ada efek pada kematian atau lama tinggal di rumah sakit. di antara pasien dengan penyakit pernapasan.

Obat antivirus adalah salah satu obat yang digunakan untuk mengobati infeksi virus korona Presiden AS Donald Trump, dan telah ditunjukkan dalam penelitian sebelumnya dapat mempersingkat waktu pemulihan, meskipun Uni Eropa sedang menyelidiki kemungkinan cedera ginjal.

Pernyataan WHO karuan mengundang reaksi sejumlah pabrik obat.Gilead Sciences Inc, produsen obat asal Amerika Serikat (AS) telah mempertanyakan hal itu kepada WHO.

Seperti dikutip dari Reuters (16/10/2020), produsen remdesivir itu menyebut data tersebut tampaknya tidak konsisten, temuannya terlalu dini. Padahal studi lain telah memvalidasi manfaat obat tersebut.

Gilead mengatakan uji coba remdesivir lainnya, termasuk dengan 1.062 pasien yang membandingkannya dengan plasebo, menunjukkan pengobatan memotong waktu pemulihan COVID-19.

“Data yang muncul (WHO) tampak tidak konsisten, dengan bukti yang lebih kuat dari beberapa penelitian acak dan terkontrol yang diterbitkan dalam jurnal peer-review yang memvalidasi manfaat klinis remdesivir,” bunyi pernyataan Gilead.

Gilead berdalih bahwa pada bulan April lalu, pejabat tinggi penyakit menular AS, Anthony Fauci, memperkirakan remdesivir akan menjadi “standar perawatan”.

Atas pernyataan Fauci itu, perusahaan seperti Gilead berlomba untuk menemukan pengobatan untuk COVID-19. Sekitar 1,1 juta orang telah meninggal dan 39,1 juta telah dilaporkan terinfeksi pandemi tersebut, dan ekonomi global telah dilanda kekacauan.

Remdesivir dikembangkan untuk Ebola, sejenis penyakit yang menyebabkan demam, pendarahan, muntah dan diare dan menyebar di antara manusia melalui cairan tubuh.