Luhut: Industri Farmasi Jangan Mainkan Harga Obat COVID-19

Luhut B Panjaitan
Luhut B Panjaitan
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Jumlah kasus COVID-19 menuntut segera digunakan obat COVID-19. Nah kini sejumlah produsen obat berlomba-lomba memasukkan remdesivir generik ke Indonesia. Remdesivir adalah kandungan obat yang pertama kali diproduksi oleh pabrik obat Gilead asal Amerika Serikat (AS).

Obat yang diklaim mampu membunuh virus Corona itu sudah dijual lwat kolaborasi PT Kalbe Farma Tbk dan Amarox, anak usaha Hetero asal Indonesia. Obat itu dilabeli merk Covifor.

Remdesivir telah mendapat lampu hijau dari Emergency Use Authorization di Indonesia. Selain itu, sudah mengantongi persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang ditandai penerbitan Nomor Izin Edar (NIE) sejak 30 September lalu.

Selain ada beberapa pabrik obat lain yang juga tengah memburu obat ini, seperti sejumlag BUMN Farmasi, antara lain, PT Indofarma Tbk dan PT Kimia Farma Tbk.

Perusahaan pelat merah Indofarma siap memasarkan remdesivir dengan merek dagang Desrem. Obat antivirus untuk pasien COVID-19 tersebut dibanderol dengan harga Rp1,3 juta per vial, sebagai tahap awal baru didistribusikan kepada rumah sakit. Manajemen Indofarma menargetkan pasokan Desrem sekitar 400.000 vial pada bulan ini.

Mengenai masuknya obat itu, seperti dilansir Sindonews.com (7/10/2020), Ketua Satuan Tugas COVID-19 Luhut Binsar Panjaitan yang juga Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman, mewanti-wanti seluruh perusahaan farmasi yang turut serta menyediakan dan mendistribusikan obat Covid-19 tidak memainkan harga jual di pasar. Pria yang lebih akrab dipanggil LBP ini beralasan bahwa kondisi ekonomi dan rasa kemanusiaan menjadi pertimbangan utama agar perusahaan farmasi menjual obat dengan harga wajar.

Untuk memantau harga obat Covid-19 yang dipasarkan di dalam negeri, LBP yang kini ditunjuk khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlibat langsung mengatasi pandemi Covid-19 mengaku bahwa pemerintah sudah mengantongi harga obat berdasarkan negara asalnya atau free on boardseperti India, China, dan Jerman. Daftar harga tersebut akan dijadikan bahan evaluasi kewajaran harga obat-obatan Covid-19 yang ada di pasar domestik. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) diminta melakukan pengawasan secara ketat.