20 Juni 2021

Obat Digital

Klik Dulu Sebelum Ke Dokter

Banyak Pasien COVID-19 Tertekan Jiwa Akibat Stigma Masyarakat

Achmad Yurianto

Achmad Yurianto

Banyak pasien COVID-19 yang mengalami stigma dan pengasingan oleh warga masyarakat. Perlu dukungan dari pendampingan dari pemerintah dan ahli terkait.
<--ads1-->
Achmad Yurianto
Achmad Yurianto

OBATDIGITAL – Martin Ginting cemas. Begitu dinyatakan positif COVID-19, ia merasa diasingkan oleh warga sekitar. Ketika menjalani isolasi mandiri di rumah kontrakan, beberapa warga dimana ia kontrak meminta enyah dari tempat tinggalnya itu.

“Saya diminta keluar dari kontrakan karena dikawatirkan menulari warga sekitarnya,” katanya dalam jumpa pers virtual yang digelar Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kamis (1/10/2020).

Bahkan bangku yang digunakan untuk berjemur juga diangkat. Begitu pula ketika sauaranya mengantarkan makanan buat dirinya ditolak lantaran dianggap mengganggu proses isolasi. “Kondisi ini membuat saya tertekan,” imbuhnya. Ia menjadi korban stigma dari masyarakat bahwa penyakit ini menular dan tak bisa disembuhkan.

Kondisi demikian tentu tak hanya dialami Martin. Beberapa pasien COVID-19 lainnya banyak mengalaminya pula. Mereka terasing dan diusir oleh warga sekitar. Tentu saja ini akan mempengaruhi mentalnya.Ini bisa menjadi depresi. Jika dibiarkan makan tidak tertutup peluang akan terjadi bunuh diri.

Menurut Achmad Yurianto, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, setiap tahun terdapat sekitar 800.000 orang meninggal dunia karena bunuh diri. Sebagian besar terjadi pada usia 14-29 tahun. “Bunuh diri merupakan tragedi di dalam komunitas bagi orang-orang yang ditinggalkan,” ujar Achmad.

Untuk itu, kesehatan jiwa harus menjadi prioritas. Kenapa? Achmad bila jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa di dunia terus meningkat. Bahkan gangguan jiwa juga menyebabkan kerugian negara hingga ratusan miliar rupiah.

Dalam kaitan dengan COVID-19, Achmad mengakui bahwa rumah sakit belum memasukkan data pasien gangguan jiwa yang terinfeksi COVID-19. Begitu pun pasien COVID-19 yang mengalami gangguan jiwa. “Maka kami meminta rumah sakit untuk mendatat pasien COVID-19 yang terindikasi terkena gangguan jiwa,” ucapnya.

Sementara itu, Diah Setia Utami, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia, mengatakan bahwa pandemi COVID-19 memberikan dampak terhadap pelayanan akses pelayanan kesehatan jiwa. Menurutnya, ini dikarenakan terbatasnya akses seperti pembatasan sosial. “Untuk itu diperlukan bantuan psikologi online,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Achmad menjelaskan bahwa Kemenkes menyediakan layanan 119 ekstension 8 untuk melayani warga masyarakat yang mendapatkan pelayanan yang terkait dengan COVID-19. Kemenkes juga tengah menyusun buku pedoman kesehatan jiwa bagaimana memberikan dukungan dan pendampingan masyarakat yang terdampak COVID-19.

Achmad juga menjelaskan pihaknya juga menyiapkan tim yang beranggotakan 1.000 tenaga kesehatan yang menangani pasien dan tenaga medis yang ingin berkonsultasi, seperti tim yang ditempatkan Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Translate »