Ikut Terdampak COVID-19, Pabrik Obat Malah Diminta Bikin Remdesevir

Luhut B Panjaitan
Luhut B Panjaitan
Luhut MP Panjaitan
Luhut B Panjaitan

OBATDIGITAL- Pemerintah berupaya mengebut produksi obat COVID-19 agar pandemi tidak berlangsung lama. Untuk merealisasikan hal tersebut, Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan mengimbau produsen farmasi nasional mempercepat produksi Remdesivir.

“Harus diupayakan untuk segera produksi dalam negeri. Kita cari bahan-bahannya itu nanti, jadi jangan ada hambatan,” ucap Luhut  dalam keterangan resmi dikutip pada Minggu (27/9/2020).

Saat ini, Bio Farma pun telah mengurus izin untuk memproduksi Remdesivir. Salah satu caranya, bekerja sama dengan India karena mereka telah mendapatkan lisensi dari perusahaan farmasi pemegang izin FDA untuk memproduksi obat antivirus COVID-19, Gilead.

Baca: Gegara Pasien COVID-19 Cepat Sembuh, Permintaan Remdesivir Melonjak

Di tengah target yang dibebankan pemerintah, industri farmasi justru ikut terdampak COVID-19. Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia, Dorojatun Sanusi menuturkan, masa pandemi ini, tantangan industri farmasi Indonesia semakin berat.

“Penurunan utilisasi produksi, kinerja menjadi berat. Permintaan obat-obatan di pasaran menurun drastis. Terjadi penurunan kinerja karena permintaan menurun drastis [turun 50-60 persen] karena pasien non-COVID-19 yang berkunjung ke faskes menurun drastis,” katanya dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Senin (28/09/2020).

Baca: India Akan Buat Remdesivir Versi Generik Untuk Basmi COVID-19

Akibat tingkat produksi di pabrik yang menurun, menyebabkan banyak tenaga kerja pabrik farmasi terpaksa di-PHK. Ada sekitar 2.000-3.000 karyawan sudah dirumahkan. Kalau kondisinya begini, akankah produksi obat Remdesivir bisa berjalan sesuai harapan?