Kemenkes Jamin Ketersediaan Obat dan Alat Kesehatan Hadapi COVID-19

<--ads1-->
Menteri kesehatan Terawan Agus Putranto
Menteri kesehatan Terawan Agus Putranto

OBATDIGITAL – Kementerian Kesehatan terus berusaha memenuhi akses obat dan alat kesehatan untuk menghadapi pandemi COVID-19. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan, pengadaan dan distribusi obat serta alat kesehatan telah sesuai protokol tatalaksana COVID-19.

Sampai dengan 21 September 2020, obat sudah didistribusikan ke 34 Dinkes Provinsi dan 746 RS rujukan. Itu disampaikan Terawan dalam Rapat Kordinasi Pimpinan Kementerian/Lembaga di Bintan, Jumat (25/9/2020).

Sebagai upaya pengembangan potensi dalam negeri dalam pemenuhan kebutuhan alat kesehatan, khususnya rapid test & ventilator, sampai dengan 21 September 2020, terdapat 9 produk rapid test dan 12 produk ventilator produksi dalam negeri.

Untuk menjamin mutu produk alat kesehatan, telah dilakukan pengawasan post-market yang meliputi inspeksi sarana, pengujian produk, dan pengawasan iklan. Sampai dengan 21 September 2020, sudah dilakukan inspeksi ke sarana, sampling, dan uji lab terhadap 81 produk APD, serta pengawasan 1163 link iklan.

Kemenkes telah melakukan tambahan pengadaan tahap I (memanfaatkan dana BA-BUN), dan akan melakukan tambahan pengadaan tahap II untuk kebutuhan 300.000 pasien. “Diharapkan, stok yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan penanganan COVID-19 secara tepat jumlah dan waktu,” tutur Menkes Terawan melalui rilis yang diterima OBATDIGITAL, Jumat (25/09/2020).

Pada akhir September nanti, rencananya tiga jenis obat COVID-19 (Favipavir, Remdesivir, dan Oseltamivir) akan tersedia dan siap di distribusikan. Sedangkan untuk Lopinavir/Ritonavir sudah tersedia dan akan segera ditambah lagi stoknya sesuai kebutuhan.

Sementara itu, untuk pengembangan Vaksin COVID-19, pemerintah membuat dua strategi, yaitu melalui Kolaborasi Dalam Negeri dan Kolaborasi Internasional. Untuk Kolaborasi dalam negeri telah dibentuk konsorsium vaksin COVID-19 atas inisiatif Kemristek/BRIN dengan Lead Konsorsium adalah Lembaga Eijkman.

Selain itu juga melibatkan Institusi lain, yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Bio Farma, Perguruan Tinggi, dengan target pelaksanaan uji klinis pada Semester II tahun 2021.

Untuk Kolaborasi Internasional telah dilakukan kolaborasi antara lain:
1. PT. Bio Farma dengan Sinovac Biotech Ltd, Estimasi Persetujuan Izin Edar pada awal tahun 2021.
2. PT. BCHT Bioteknologi Indonesia dengan China National Biotech Group Company Limited (CNBG), Pengajuan persetujuan Izin Edar direncanakan pada awal Mei 2021.
3. PT. Kalbe Farma dengan Genexine (Korsel), ditargetkan persetujuan Izin Edar pada Agustus 2021.
4. PT. Bio Farma dengan CEPI, Bio Farma telah masuk dalam daftar manufacturer (short list) yang berpotensi untuk memproduksi vaksin COVID-19.

Kementerian Kesehatan telah menyusun draft roadmap rencana nasional pelaksanaan pemberian imunisasi COVID-19. Di dalam pedoman tersebut juga diatur terkait pelaksanaan pemberian imunisasi dan tahapan pelaksanaan pemberian imunisasi COVID-19. Pedoman ini masih dalam tahapan pengembangan