Cedera Otak Bisa Disembuhkan Cukup Dengan Cahaya

cedera otak
cedera otak

OBATDIGITALTraumatic brain injury (TBI) atau cedera otak traumatik dialami oleh 69 juta orang dalam satu tahun. Namun, belum ada pengobatan untuk kondisi ini karena dasar mekanisme biologis belum dipahami dan umumnya riset ditujukan pada tahap trauma akut.

Namun kini ada harapan baru bagi pasien ini. Pasien bisa disembuhkan dengan terapi cahaya ringan atau low-level light therapy (LLLT). Itu berdasarkan studi terapi cahaya.

Studi ini merupakan yang pertama, berdasarkan proses uji klinis prospektif, acak, dan intervensi dari terapi cahaya inframerah, serta low-level light therapy (LLLT) pada pasien yang baru menderita cedera otak sedang.

Riset ini dipimpin oleh peneliti senior yang juga Director of The Ulta-High Resolution Volume CT Lab di MGH, Rajiv Gupta dan peneliti dari Wellman Center, Benjamin Vakoc. Selain itu, mendapat dukungan dari Departemen Pertahanan (DOD).

Tahapan uji klinis melibatkan 68 pasien cedera otak traumatik yang terbagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok menerima LLLT dengan pelindung kepala khusus yang mampu mentransfer cahaya, sedangkan kelompok lainnya menggunakan pelindung kepala tetapi tidak menerima pengobatan.

Hasilnya, 28 pasien yang telah menyelesaikan sesi LLLT, tidak menunjukkan efek samping yang mengkhawatirkan bagi kesehatan. Studi ini menunjukkan, cahaya berdampak pada sel. Meski, sel memiliki reseptor cahaya.

“ Dalam percobaan ini, kami memiliki beberapa pertanyaan yang belum terjawab seperti apakah cahaya akan menembus kulit kepala dan tengkorak. Apakah dosisnya cukup dan apakah substrat saraf dapat melakukan perbaikan setelahnya,” kata Gupta kepada News Medical, Rabu (23/09/2020).

Studi awal ini fokus pada pasien dengan cedera otak traumatik sedang. Hal ini membantu memastikan adanya temuan statistik karena pasien dalam kategori tersebut cenderung menunjukkan efek yang dapat diukur.

“Akan lebih sulit untuk melihat perubahan seperti itu pada pasien dengan cedera ringan. Kemudian, pada pasien cedera otak parah, sangat mungkin bahwa efek terapi cahaya akan dikacaukan oleh penyakit penyerta lainnya akibat parahnya trauma,” kata Gupta.

Dia menambahkan, para peneliti masih sangat awal dalam pengembangan terapi ini. Sampai saat ini, terapi belum dapat diterapkan untuk jenis cedera otak lainnya seperti ensefalopati traumatis kronis (CTE), yang telah mendapat banyak perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir.